Breaking News
Presiden Madura United : Andai Pemerintah Tak Memberi Izin, Lebih Baik Liga 1 2021 Dibubarkan Saja     Terus Merugi, 5 Klub Liga 1 Desak PT LIB Untuk Segera Gulirkan Kompetisi     Dukung Tim Bulutangkis Indonesia, Eks Pemain Timnas Ini Pukul TV Pakai Raket     Pelatih Persela Ungkap Kelebihan Timnas di Era Shin Tae-yong     Pemain Keturunan Jawa-Belanda Meninggal, Real Madrid dan Ajax Amsterdam Ucapkan Pesan Belasungkawa    
Pasang Surut PSSI Selama Tahun 2020, Drama STY, Kompetisi Mandek dan Mundurnya Ratu Tisha
31 Desember 2020 | 09:21 WIB oleh Amirul Mukminin
SepakbolaNasional - @Bola.com ± 7 bulan yang lalu
206   x
Share on:
(Pasang Surut PSSI Selama Tahun 2020, Drama STY, Kompetisi Mandek dan Mundurnya Ratu Tisha) - @Bola.com - Momen PSSI 2020: Iwan Bule, Shin Tae-yong, Ratu Tisha dan Indra Sjafri
Keterangan gambar : Pasang Surut PSSI Selama Tahun 2020, Drama STY, Kompetisi Mandek dan Mundurnya Ratu Tisha Momen PSSI 2020: Iwan Bule, Shin Tae-yong, Ratu Tisha dan Indra Sjafri (Sumber gambar:@Bola.com)

Kilas Balik PSSI 2020: Kompetisi Terhenti, Ratu Tisha Destria Mundur, dan Polemik Shin Tae-yong

Liga123 - Federasi Sepakbola Indonesia (PSSI) selalu menjadi sebuah organisasi olahraga yang mendapatkan sorotan masyarakat, tidak terkecuali sepanjang 2020. Perjalanan PSSI dalam 12 bulan terakhir cukup diwarnai pasang dan surut, baik dalam tantangannya membuat kebijakan untuk Tim Nasional Indonesia hingga kompetisi yang tidak kunjung berjalan.

Bagi penggemar Sepakbola Indonesia, PSSI bukan hanya menjadi induk organisasi Sepakbola Tanah Air, tapi juga menjadi sasaran kritik ketika Sepakbola, khususnya Tim Nasional Indonesia, tidak kunjung memberikan prestasi bagi bangsa dan negara ini.

Kendati Demikian, PSSI juga selalu menjadi primadona bagi tokoh masyarakat yang merasa tertantang untuk mengembangkan potensi Sepakbola di Tanah Air hingga untuk menjadi batu loncatan terhadap karier, termasuk di dunia politik.

Sepanjang 2020, PSSI dipimpin oleh Mochamad Iriawan, seorang perwira kepolisian yang telah terpilih melalui Kongres Luar Biasa PSSI yang digelar pada 2 November 2019. Iriawan, yang karib disapa Iwan Bule, punya mandat besar untuk mengembangkan Sepakbola di Tanah Air, terutama karena Indonesia terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021, yang kini dipastikan batal dan digeser ke 2023.

Ada beberapa momen menarik dalam persepakbolaan nasional dan melibatkan PSSI sepanjang 2020 ini. Bola.com merangkumnya dalam sebuah perjalanan dari Januari hingga Desember 2020.

Mengawali 2020 dengan Kongres, Kompetisi yang Kemudian Berhenti, Hingga Ratu Tisha Mundur

Setelah lebih dari dua bulan memimpin PSSI dan menunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih (juru taktik) Tim Nasional Indonesia, Mochamad Iriawan memimpin organisasinya untuk mengawali kerja pada 2020 dengan Kongres Tahunan PSSI pada 25 Januari 2020. Dalam kongres tersebut, PSSI membuat sejumlah perubahan.

Perubahan meliputi badan yudisial, yaitu pergantian personel yang ada di Komite Disiplin dan Komite Banding. Dilain sisi, PSSI juga mengumumkan struktur Komite Etik dan Komite Wasit.

Setelah  mengadakankongres tahunan, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru, selaku operator kompetisi, bersiap untuk mengadakanShopee Liga 1 2021. Kompetisi ini digelar cukup cepat, yaitu dimulai pada 29 Februari yang membuat turnamen pramusim Piala Presiden tidak bisa digelar.

Alasannya sederhana, PSSI ingin memastikan kompetisi bisa berjalan dengan jadwal yang lancar dengan memperhitungkan sejumlah jeda kompetisi, mulai dari jadwal internasional dan Piala AFF 2020 yang bakal diikuti oleh Tim Nasional Indonesia.

Kendati Demikian, keinginan PSSI memberikan kompetisi yang berjalan lancar terkendala situasi kahar (force majeure) yang disebabkan pandemi COVID-19. Tepat setelah pembukaan Liga 2 2020 yang digelar pada Maret 2020, PSSI memberi keputusan untuk menghentikan sementara kompetisi Sepakbola Indonesia. Shopee Liga 1 pun baru tiga minggu pertama digelar.

PSSI mengeluarkan surat keputusan penghentian kompetisi dengan pertimbangan akan menentukan nasib kompetisi setelah Mei 2020, di mana itu menjadi batas akhir situasi darurat yang ditetapkan Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB).

Dalam perjalanan waktu tersebut, kabar mengejutkan datang dari Sekjen (Sekretaris Jendral) PSSI, Ratu Tisha Destria. Sekjen wanita pertama di PSSI itu memberi keputusan mundur lewat sebuah pengumuman yang diunggahnya ke media sosial pada 13 April 2020.

"Hari ini, Senin 13 April 2020, melalui surat, saya telah resmi mengundurkan diri dari posisi Sekretaris Jenderal PSSI," ujar Ratu Tisha Destria.

"Saya bersyukur pernah meraih kesempatan bekerja untuk melayani Anggota PSSI, pemain, Pelatih, wasit, match commissioner, instruktur, dan para pecinta sepakbola sejak 17 Juli 2017."

"Bersama-sama kita telah memeriahkan kursus kePelatihan dan perwasitan di berbagai provinsi, memutar rantai amatir dan Elite Usia Muda, membangun kerjasama dengan federasi kelas dunia, menghidupkan lini usaha kreatif, mengibarkan kembali sepakbola putri, dan puncaknya adalah terpilihnya Indonesia sebagai Tuan Rumah Piala Dunia U-20."

"Sebuah kebanggaan yang tidak dapat terwujud tanpa dukungan Pengurus & Anggota PSSI, Pemerintah, dan stakeholder sepakbola, termasuk kamu, setiap individu yang sedang mendengarkan pesan ini. Jangan pernah berhenti untuk mendukung sepakbola Indonesia."

"Yakin selalu ada harapan bagi yang berdoa, selalu ada waktu yang tepat bagi yang bersabar dan selalu ada jalan bagi yg tidak pernah lelah berusaha. Pada suatu kesempatan dengan para sahabat, saya pernah berkata: 'hati saya, kalau dibelah, isinya hanya sepakbola'. I have loved you for a thousand years, and I will love you for a thousand more. Because we love football," tutup Ratu Tisha Destria dengan suara tangis dalam rekaman suara di media sosialnya itu.

Keputusan ini cukup mengejutkan pecinta Sepakbola Indonesia. Ratu Tisha dianggap sangat berkontribusi untuk membuat Indonesia terpilih oleh FIFA menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021.

PSSI pun tidak mau larut dalam persoalan dan menunjuk Yunus Nusi menjadi Plt Sekjen (Sekretaris Jendral) PSSI yang dijabatnya hingga akhir 2020.

Polemik dengan Shin Tae-yong dan Kegagalan Melanjutkan Shopee Liga 1 Sesuai Rencana

Dalam perjalanannya pada 2020, PSSI sempat terlibat polemik dengan sang Pelatih (juru taktik) Tim Nasional Indonesia, Shin Tae-yong. Pelatih (Juru Taktik) asal Korea Selatan itu sempat pulang ke Korea Selatan dan tak kunjung datang kembali ke Indonesia.

Bahkan yang menarik, Shin Tae-yong sempat membuat beberapa pernyataan yang menyerang PSSI melalui media di Korea Selatan. Mantan Pelatih (juru taktik) Tim Nasional Korea Selatan itu awalnya menuding staf kePelatihannya saat itu, Indra Sjafri, sebagai sosok yang tidak profesional karena meninggalkan Training Camp pada awal tahun.

Saling komentar di media massa sempat mewarnai panasnya perselisihan antara Shin Tae-yong dan Indra Sjafri yang kemudian diangkat oleh PSSI menjadi Direktur Teknik PSSI. Situasi makin panas setelah sang Pelatih (juru taktik) tidak kunjung kembali ke Indonesia untuk membimbing Tim Nasional Indonesia U-19 yang harus melakukan Training Camp sebagai persiapan menuju Piala AFC U-19 dan Piala Dunia U-20.

Hingga akhirnya Mochamad Iriawan meredakan persoalan tersebut dan meminta Shin Tae-yong kembali ke Indonesia untuk melanjutkan tugasnya sebagai Pelatih (juru taktik) Tim Garuda Junior pada Agustus 2020. Shin Tae-yong pun datang dan memimpin Training Camp Indonesia yang kemudian berlanjut dengan rangkaian Training Camp dan laga Ujicoba /Training Match di Kroasia pada September hingga Oktober 2020.

Meski berhasil mengantar Tim Nasional Indonesia U-19 melakukan persiapan dengan mengadakanTraining Camp di Kroasia, PSSI cukup sakit kepala ketika akhir September lalu mereka mendapatkan kejutan dari kepolisian bahwa lanjutan Shopee Liga 1 2021 yang rencananya digelar pada 1 Oktober 2020 tidak bisa digelar.

Hanya dua hari sebelum rencana kick-offlanjutan kompetisi, Plt Sekjen (Sekretaris Jendral) PSSI, Yunus Nusi, sampai harus meninggalkan webinar yang digelar Bola.com lebih cepat karena mendapatkan panggilan dari Ketua Umum terkait kelanjutan kompetisi Shopee Liga 1.

Kepolisian tidak mengeluarkan izin keramaian yang diperlukan untuk memutar kembali kompetisi meski PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) sudah mempersiapkan protokol kesehatan. PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) pun mengadakanpertemuan darurat dan menyampaikan penundaan kompetisi selama satu bulan hingga November 2020.

Kendati Demikian Sayang, hingga November 2020 kepolisian tetap tidak memberikan izin mengadakankompetisi. Pelaksanaan Pilkada serentak pada 9 Desember 2020 disinyalir juga membuat pihak kepolisian tak bisa merestui adanya kompetisi Sepakbola di tengah pandemi COVID-19, mengingat mereka memerlukan kekuatan yang besar untuk melakukan pengamanan dari situasi yang tidak diinginkan.

PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) pun kemudian memberi keputusan tak ada lanjutan Shopee Liga 1 pada akhir kalender 2020 dan merencanakan kompetisi berlanjut pada Februari 2021 dengan titel baru, yaitu Shopee Liga 1 2021/2021.

Kabar Buruk Akhir Tahun: Piala Dunia U-20 2021 Batal

Saat masih mendapatkan desakan dari klub-klub Shopee Liga 1 terkait kepastian lanjutan kompetisi kasta tertinggi Sepakbola Indonesia, kabar buruk datang satu hari jelang Natal 2020. FIFA memastikan Piala Dunia U-17 dan Piala Dunia U-20 2021 yang digelar di Peru dan Indonesia.

Kendati Demikian, FIFA juga memastikan bahwa dua kejuaraan tersebut akan tetap digelar di Peru dan Indonesia pada 2023. Artinya, baik Peru maupun Indonesia otomatis tetap terpilih menjadi tuan rumah dalam kejuaraan tersebut.

"Akibat pandemi COVID-19, Dewan FIFA memberi keputusan untuk membatalkan Piala Dunia U-20 dan Piala Dunia U-17, serta menunjuk Indonesia dan Peru masing-masing, yang merupakan tuan rumah turnamen pada 2021, sebagai tuan rumah edisi 2023," bunyi pernyataan FIFA.

Ketua PSSI, Mochamad Iriawan, pun tidak ingin larut dalam kekecewaan karena pembatalan tersebut. Ketua PSSI yang karib disapa Iwan Bule itu merespons keputusan FIFA dengan positif.

"Menyusul pembatalan Piala Dunia U-20 2021 oleh FIFA, Tim Nasional Indonesia U-20 yang akan dipersiapkan nantinya dapat memanfaatkan waktu tambahan dan melanjutkan program untuk persiapan Piala Dunia U-20 2023," ujar Iwan Bule.

"Saya berharap semoga persiapannya bisa menjadi lebih menyeluruh, matang, dan nantinya Tim Nasional Indonesia U-20 bisa menjadi juara," lanjutnya.

Sementara itu, Menpora Zainudin Amali berbicara anggaran persiapan Tim Nasional Indonesia U-19 pun disetop. Menurutnya, per 24 Desember 2020 saat FIFA mengeluarkan pengumuman penundaan Piala Dunia U-20, pihaknya sudah tidak bisa lagi menganggarkan dana.

"Tentu (surat keputusan) sudah harus kita keluarkan, kan ada pemberitahuan baru 24 Desember malam. Sehingga, pembiayaan yang sudah dilakukan sebelumnya, sepanjang belum ada pemberitahuan itu menjadi sesuatu yang sah saja," ujar Zainudin Amali.

"Tetapi setelah pengumuman FIFA, kita tidak boleh lagi mengeluarkan pembiayaan, baik itu buat penyelenggaraan maupun Tim Nasional. Lain halnya dengan infrasturktur, karena sifatnya kontraktif, maka itu harus diselesaikan. Jadi berbeda antara penyelenggaraan, Tim Nasional, dan infrastruktur," ujarnya lagi.


Share on: