Breaking News
Cerita Diego Michiels Tinggalkan Belanda Demi Timnas Indonesia     Pilar Asing Persela Ungkap Perbedaan Liga Malaysia dan Liga Indonesia     Tim Rival Akan Gelar TC 5 Agustus, Timnas Indonesia Masih Tunggu PPKM     Greysia/Aprian Raih Medali Emas, Klub Liga 1 Kompak Ucapkan Selamat     Greysia Polli/Apriyani Rahayu Sumbang Emas Pertama untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020    
Wasit Oki Dwi Putra Heran Pasar Tanpa Protokol Kesehatan Boleh Buka, Namun Liga 1 Tanpa Penonton Malah Dilarang !
21 Januari 2021 | 08:40 WIB oleh Amirul Mukminin
SepakbolaNasional - @kompas.com ± 6 bulan yang lalu
142   x
Share on:
(Wasit Oki Dwi Putra Heran Pasar Tanpa Protokol Kesehatan Boleh Buka, Namun Liga 1 Tanpa Penonton Malah Dilarang !) - @kompas.com - Wasit Oki Dwi Putra (tengah) pada Final Piala Presiden 2019, Senin (15/4/2019).
Keterangan gambar : Wasit Oki Dwi Putra Heran Pasar Tanpa Protokol Kesehatan Boleh Buka, Namun Liga 1 Tanpa Penonton Malah Dilarang ! Wasit Oki Dwi Putra (tengah) pada Final Piala Presiden 2019, Senin (15/4/2019). (Sumber gambar:@kompas.com)

Wasit Liga 1 soal Kompetisi Mandek Saat Prokes Terus Dilanggar: Mau Sampai Kapan?

Liga123 - Wasit Liga 1, Oki Dwi Putra, mengaku bingung ketika kompetisi Sepakbola di Indonesia harus berhenti dan tak kunjung dilanjutkan karena alasan Covid19.

Kebingungan yang muncul dalam benak Oki Dwi Putra muncul setelah dirinya melihat banyak pelanggaran terhadap protokol kesehatan (prokes) di tengah masyarakat.

Dalam pernyataannya, Oki Dwi Putra memberi contoh yang sangat erat dengan kehidupan sehari-hari.

Wasit terbaik Piala Presiden 2018 itu mengatakan bahwa dia melihat banyak pelanggaran prokes saat berkunjung ke pasar untuk membeli kebutuhan pangan.

Dalam bayangan Oki Dwi Putra, prokes terkait Covid 19 seperti menjaga jarak dan memakai masker akan diterapkan oleh para pengunjung dan penjual.

Kendati Demikian, kenyataannya tidak. Dia mengaku terkejut karena aktivitas di pasar tradisional tidak menerapkan prokes secara disiplin.

"Kenapa yang lain digelar, dan ini (Liga 1) tidak? Seperti pasar tradisional, saya sering ke pasar," ujar Oki Dwi Putra, seperti dikutip dari BolaSpot.com.

"Dimana Sebelumnya, selama Covid19 ini ada pasar tumpah di dekat rumah saya, jadi tidak perlu lagi ke pasar besar."

"Kendati Demikian, semenjak PSBB, semua dibatasi, jadi terpaksa saya pergi ke pasar yang lebih besar," ujarnya.

"Dari yang saya rasa dan lihat, tidak ada yang nemanya social distancing, tidak ada protokol kesehatan, tidak ada yang memakai masker, ya alhamdulillah masih pada sehat," imbuh Oki Dwi Putra.

Kemudian, Oki Dwi Putra mengaitkan antara pelanggaran prokes yang ia lihat dan status keberjalanan kompetisi di Indonesia.

Menurutnya, kompetisi seharusnya bisa berjalan karena setiap klub telah menerapkan protokol kesehatan secara disiplin.

Bahkan dalam sebuah pertandingan, sudah jelas ada protokol kesehatan yang wajib dipatuhi semua orang terlibat.

"Ya memang namanya manusia kan kebutuhan mengonsumsi makanan tidak dapat dicegah, tetapi di sana tidak ada prokes," ujar Oki Dwi Putra.

"Kendati Demikian, main bola yang sudah jelas ada prokesnya dengan begitu ketat, kenapa tidak diperbolehkan, tidak dapat berjalan?" ungkap Oki mempertanyakan.

Dalam mengungkapkan pandangannya tersebut, Oke Dwi Putra turut memikirkan kerinduan para pelaku Sepakbola terhadap kompetisi.

"Semua elemen dan stakeholder banyak yang mengeluh saat ini, pasti. Bahkan, wartawan pun pasti terdampak karena ketidakberadaan liga. Pasti semuanya sudah merindukan kompetisi," ucap Oki.

Adapun kompetisi Sepakbola di Indonesia sudah tidak berjalan sejak Maret 2020. Artinya, sudah 10 bulan kompetisi di Tanah Air mandek.

Bagi Oki Dwi Putra yang berkarier sebagai wasit, tentu itu bukan waktu yang sebentar.

Bahkan, saking lamanya kompetisi tak berjalan, Oki menggambarkan bahwa peluit yang biasa digunakan untuk memimpin laga sudah tak melengking lagi.

"Nah, kami-kami ini tuh salah apa? Kenapa tidak main-main? Ya istilahnya peluit saja sekarang sudah mampet, tidak melengking lagi."

"Kaki pemain sudah tidak bisa diam, telunjuk Pelatih (juru taktik) sudah lama tidak bergerak. Secara atmosfer dan emosional, semua pasti merindukan. Mau sampai kapan?" ungkap wasit berusia 37 tahun tersebut


Share on: